KODE-KODE BUDAYA DALAM FABEL MASYARAKAT ACEH

  • Yulsafli Yulsafli Universitas Serambi Mekkah
Keywords: Cultural, Code, Fable

Abstract

This study is entitled "Cultural Code in the Aceh Community Fable". The formulation of the problem in this research is how is the cultural code in the Acehnese fable? To describe the cultural code in the Acehnese fable. The benefit of this research for the researchers themselves is that they can add insight into the literary codes contained in the Acehnese fable and as an input in studying and studying literature, especially fables. Sources of research data are the Acehnese fable, namely (1) Shearing Abang Gajah (Gayo), and (2) Carito Sang Nago Jo Tuanku Tapa (Jamee), (3) Origin of Monkeys (Simeulue), and (4) White Buffalo (Buffalo) ( Simeulue), and (5) Palandok (The Mouse Deer). The method used in this research is descriptive method. The data collection technique used in this study is the documentation technique. The data in this study were obtained from the book Collection of Oral Literature by Budiman Sulaiman in the 2000 issue. Based on the data processing and analysis, it was concluded that in the five fables analyzed there were various cultural codes, namely icons, symbols and indexes. An icon is a physical object (two or three dimensions) that resembles what it represents, a symbol is something or a condition that leads the subject's understanding of the object, while an index is a sign that is present sociatively due to the presence of a fixed characteristic reference relationship. Cultural codes in the Acehnese fable are very important, especially in shaping the character of children.

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kode budaya dalam masyarakat Aceh. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif.Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah teknik dokumentasi.Data penelitian ini bersumber dari buku Kumpulan Fabel Masyarakat Acehyang ditulis oleh Budiman Sulaiman. Fabel yang dipilih berjumlah lima judul yang terdapat di Aceh, yaitu (1) Geser Geser Abang Gajah (Gayo), dan (2) Carito Sang Nago Jo Tuanku Tapa (Jamee), (3) Asal Mula Monyet (Simeulue), dan (4) Kerbau Putih (Simeulue), dan (5) Palandok (Si Kancil).Berdasarkan pengolahan dan analisis data diperoleh simpulan bahwa dalam dalam kelima fabel yang dianalisis tersebut terdapat bermacam-macam kode budaya, yaitu ikon, simbol, dan indeks.Ikon adalah sesuatu benda fisik yang menyerupai apa yang dipresentasikannya, simbol adalah sesuatu hal atau keadaan yang memimpin pemahaman si subjek kepada objek, sedangkan indeks adalah tanda yang hadir secara asosiatif akibat terdapatnya hubungan ciri acuan yang sifatnya tetap.Kode budaya dalam fabel masyarakat Aceh sangat bermanfaat dalam membentuk karakter anak baik sebagai individu, sebagai warga masyarakat, dan sebagai warga negara yang baik.

Kata Kunci : Kode, Budaya, Fabel

References

Arikunto, S. (1998). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktis. Jakarta: Balai Pustaka.

Ateew. (1983). Membaca dan Menilai Sastra. Jakarta: Gramedia.

Barthes, R. (2012). Elemen-Elemen Semiologi. Yogyakarta: IRCiSod.

Djojosuroto, K. (2004). Intisari Bahasa dan Sastra Indonesia. Bandung: Pustaka Setia.

Danandjaja, J. (2008). Folklor Indonesia, Ilmu Gosip, Dongeng dan lain-lain. Jakarta: Grafiti.

Eco, U. (1979). A Theory of Semiotics. Blomington: Indiana University Press.

Harususilo, Y. E. (2018). Enam Manfaat Mendogeng untuk Anak. http://edukasi.kompas.com/read/2018/06/17/21492131.

Hoed, B. H. (2001). Semiotik dan Dinamika Sosial Budaya. Jakarta: Kamunitas Bambu.

Hartoko, D., & Rahmanto, B. (1986). Pemandu di Dunia Sastra. Yokyakarta: Karnius.

Holbrok, M. B. E., & Hirschman, C. (1993). The Semotics of Consumption: Interprinting Simbolic ConsumerBehavior in popular Cultrureand Works of Art. New York: Mouton de Gruyter.

Juanda. (2018). Eksplorasi Nilai Fabel Sebagai Sarana Alternatif Edukasi Siswa. Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra, Volume 18, Nomor 2, Oktober 2018.

Junani, E., Emi, A. & Amril, C. (2017). Analisis Nilai Pendidikan Karakter dalam Cerita Rakyat Seluma. Jurnal Korpus, Volume I, Nomor I, Agustus 2017.

Khasanah. (2018). Digitalisasi Buku Dogeng Anak: Strategi Mempertahankan Warisan Budaya Sastra Lisan di Era Disrupsi. Repositori. Kemendikbud.go.id.

Natawidjaja, S. (1990). Apresiasi Sastra dan Budaya. Jakarta: Intermasa.

Pradopo, R. D. (1987). Pengkajian Puisi.Yokyakarta: Gajah Mada University Press.

Ratna, N. K. (2007). Sastra dan Cultur Studies: Representasi Fiksi dan Fakta. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Sobur, A. (2009). Semiotika Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Poerwadarminta.(2002). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Sikana, M. (2008). Teori Sastra Kontemporari. Jakarta: Pustaka Karya.

Santoso, P. (2002). Ancangan Semiotika dan Pengkajian Susastra. Bandung: Angkasa.

Santoso, P. (2006). Ilmu Semiotika. Bandung: Angkasa.

Setiadi, E. (2007). Ilmu Sosial dan Budaya Dasar (ISBD). Bandung: Kencana Prenada Media Group.

Soemardi, H. (2004). Pelestarian Kebudayaan. Jakarta: Gunung Agung.

Soemardjan. (2000). Hubungan Kebudayaan dengan Sastra. Jakarta: Rineka Cipta.

Semi, M.A. (2000). Anatomi Sastra. Jakarta: Angkasa Raya.

Sulaiman, B. (2000). Struktur Sastra Lisan. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.

Sriyono,. Siswanto,. & Lestari. (2015). Kode-Kode Budaya dalam Sastra Lisan Biak Papua. Atavisme Jurnal Ilmiah Kajian Sastra. Vol 18, No 1 (2015).

Wellek,. Rene,. & Austin, W. (1990). Teori Kesusastraan. Jakarta: Gramedia.

Waluyo, J. H. (1999). Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta: Erlangga.

Yulsafli,B. & Ismawirna, A. G. (2018). Kode Sastra dalam Sastra Lisan Aceh Hikayat Jugi Tapa. Jurnal Humaniora, Vol.2, No. 2, Oktober 2018 : 118-129 http://jurnal.abulyatama.ac.id/humaniora.

----------. (2000). Kod Sastra dalam Puisi-Puisi Terpilih WS Rendra (Tesis). Penang (MY): Universiti Sains Malaysia.

Article Metrics
Abstract views: 47
pdf downloads: 30
Published
2020-07-30
How to Cite
Yulsafli, Y. (2020). KODE-KODE BUDAYA DALAM FABEL MASYARAKAT ACEH. Jurnal Metamorfosa , 8(2), 137-153. https://doi.org/10.46244/metamorfosa.v8i2.1111
Section
Articles